Kasus Oppung Cabul, Psikolog Anak Tekankan Bahaya Laten Pada Korban Dikemudian Hari

 

PEMATANGSIANTAR , Reportase INC – Psikolog anak sekaligus penulis buku, Dosni Arihta Saragih, S.Psi prihatin melihat semakin hari, kasus pelecehan seksual pada anak semakin meresahkan.
Hal itu terungkap dalam perbincangannya dengan awak media ini, Jumat (19/11/2021).

“Lambatnya penanganan kasus kekerasan seksual pada anak (KSA) menjadi salah satu indikator buruknya perlindungan anak di Indonesia. Sudah seharusnya semua pihak yang terkait bahu membahu mengungkap serius kasus ini,” ujarnya.

Dosni berpendapat setiap korban KSA (kekerasan seksual anak-red) akan mengalami dampak psikologis yang serius hingga mereka dewasa.

“Teori psikoanalisa menyebutkan bahwa pengalaman awal individu sejak lahir hingga dewasa akan menentukan karakter dasar dan kepribadian mereka ketika dewasa (Hall&Lindzey, 1993). Terutama lima tahun pertama kehidupannya, yang ditandai oleh cara-cara reaksi suatu zona tubuh yang baru dikenalinya.

Artinya, jika mengalami hambatan pada tahap psikososial tersebut, dalam hal ini anak masih mengenali organ tubuhnya namun mengalami peristiwa traumatis dan terancam oleh situasi yang tidak dapat dikuasainya, maka akan berdampak pada kepribadian dan kehidupannya di masa dewasa, yang dimunculkan dalam bentuk symptom kecemasan, ketakutan, dan kegelisahan terus menerus dan akan memunculkan reaksi dalam bentuk perilaku maladaptif /menyimpang ke depannya,” ungkapnya menjelaskan.

Psikolog muda berbakat ini bahkan memaparkan bahwa saat dewasa kelak, ketika mereka (korban-red) tidak mampu mengatasi konflik yang dihadapi krn pengalaman traumatis yg dialaminya, mereka tidak dapat berpikir jernih dan dapat melakukan perilaku yang menyimpang hingga mungkin berkeinginan untuk mengakhiri hidupnya.

“Apalagi korban adalah anak-anak yang tidak paham bahwa ia sedang mengalami kekerasan seksual. Sedangkan pelaku adalah orang yang memiliki power/ kekuatan untuk menekan korban, sehingga akan memunculkan perilaku tonic immobility yaitu sensasi kelumpuhan sementara sehingga korban tidak bisa menjerit minta tolong, melarikan diri, apalagi melawan balik karena sekujur tubuhnya tidak bisa digerakkan,” tambahnya.
Itulah sebabnya, masih menurut Dosni, semua pihak terutama orang dewasa (dalam hal ini orangtua) tidak boleh mengabaikan, melupakan, apalagi menekan korban, karena akan memunculkan efek traumatis yang sangat serius.

Baca :  Roadmap Penguatan Moderasi Beragama Ditargetkan Rilis Bertepatan HAB Kemenag

“Pihak keluarga dan polisi harus lebih peka dan tegas dalam menegakkan keadilan, terutama pemerhati anak, sehingga dapat saling bekerja sama dan lebih cepat dalam menangani kasus ini,” pesannya.
Dosni berharap semoga, dengan menyadari betapa seriusnya dampak yang akan muncul pada korban KSA (kekerasan seksual anak-red), dapat membuka mata semua pihak agar lebih serius menangani kasus-kasus KSA.

“Setiap korban supaya mendapatkan perlindungan yang semestinya,” tutupnya mengakhiri.

(Evaman Tel)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *