Anak dan Cucu Keponakan Lolos Ujian Perades, Kades Jipo Kepohbaru Jadi Bahan Pergunjingan Juga  Diolok-olok Warganya

BOJONEGORO, Reportase INC –  Diduga kecewa dengan proses pengisian Perangkat Desa (Perades) yang digelar serentak di 18 desa se Kecamatan Kepohbaru Bojonegoro Jatim, pada Rabu (15/09/21) lalu, warga yang menamakan diri Forum Komunikasi Pemuda Jipo (FKPJ) mengunggah banner ucapan selamat melalui medsos kepada 2 peserta yang lolos ujian sebagai Sekdes dan Kasun.

Sekilas, ucapan selamat dan sukses itu nampak sebagai ungkapan normal atas keberhasilan penyelenggaraan ujian Perades. Namun jika diamati secara teliti, sejatinya ucapan tersebut ternyata berisi sindiran atau satire sebagai ungkapan kekecewaan mereka akibat tak sehatnya proses ujian pengisian Perades di Desa Jipo Kepohbaru.

Ini adalah cara cerdas warga menunjukkan bahwa ada gelagat tidak beres dalam pengisian Perades di Desa Jipo Kecamatan Kepohbaru Bojonegoro tersebut. Sebab, dalam narasi ucapan selamat itu menyebut sangkut paut soal anak dan cucu dari Kades setempat yang lolos dengan nilai fantastis.

Dalam banner tersebut, peserta yang lolos sebagai Sekdes Jipo adalah Anita Rohmah, dengan nilai 90, yang merupakan anak Kades dan istri dari Kaur Perencanaan.

Lalu, ada nama Helmi Yahya A, yang mendapat nilai 87, yang merupakan anak dari Kasun Kendal, yang juga cucu keponakan Kades, yang lolos sebagai Kasun Ngrandu Desa Jipo.

“Semoga Desa Jipo bisa makmur semakin maju dan tidak mengalami kemunduran,” begitu narasi harapan pesimistis dalam banner itu.

Sekali lagi, ini adalah bentuk kecerdasan masyarakat untuk menyikapi ketimpangan dan kecurangan yang terjadi di desa mereka. Melalui sindiran atau olok-olok itulah, FKPMJ melakukan kritik atas tidak bisa dipercayanya lembaga penyelenggara atau Tim Pengisian Perangkat Desa (TPPD) yang koar-koar mengatakan pihaknya kredibel dan akuntabel itu.

Baca :  Kembali Kantor Pemkab Lumajang di Demo, Kali ini Tagih Janji Soal Pertambangan

Kenapa muncul satire? Tentu saja dikarenakan banyak pertimbangan, baik aspek sosial maupun hukum. Pasalnya, nyaris seluruh masyarakat tahu, jika membuat laporan secara hukum atas dugaan kecurangan tentu saja harus memiliki setidaknya 2 alat bukti permulaan yang cukup. Tentu saja itu mustahil didapat.

Kok bisa? Ya, karena para pemain kecurangan telah memperhitungkan secara cermat agar tidak ada bukti dan saksi yang menjerat mereka. Semua terukur dan tentu saling menjaga karena ada pembagian kue yang akan dinikmati.

Istilah lawasnya, kongkalikong tutup mata buka kantong.

Secara moral, munculnya banner ucapan selamat yang berisi satire itu adalah bentuk hukuman sosial bagi Kades Jipo beserta para pengikut setianya. Bagi para pemimpin sejati, hal itu adalah tamparan keras sekaligus menyusutnya harga diri karena hilangnya kepercayaan dari warganya.

“Terima kasih bpk kades jipo atas terselenggaranya seleksi penerimaan perangkat desa yang katanya jujur dan adil,” bunyi narasi akhir dalam banner satire itu.

Bisa jadi, saat masih menggenggam kekuasaan, barangkali masih belum begitu terasa apa itu hukuman sosial dari masyarakatnya. Tetapi di banyak tempat, bekas penguasa akan menjadi lebih rendah se-rendah-rendahnya bila tidak lagi dipercaya oleh masyarakat.
Sumber : Teras Jatim. Com
(Rohmad/Red)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *