May Day 2021, Perjuangan Buruh Di Masa Pandemi Antara Hidup Dan Mati

 

SURABAYA, Reportase INC – Pandemi mungkin membatasi semua orang dan kegiatan di segala lini, dari yang berpangkat sampai buruh jelata. Bahkan termasuk pula kegiatan prinsipal yang berhubungan dengan hidup mati, semisal ibadah bahkan aksi demonstrasi.

Kenapa demontrasi juga dianggap hidup mati? Karena bagi buruh dan rakyat, sebuah kebijakan yang tidak tepat, adalah ancaman kehidupan yang bisa berujung matinya masa depan. Dan hal itu tidak cukup sekedar diatasi dengan divaksinasi atau sosial distansi, namun wajib diperjuangkan dengan aksi dan audensi.

Peringatan May Day adalah momentum perjuangan rakyat yang dipandegani kaum buruh. Walau ditengah ancaman pandemi Covid 19, buruh Jawa Timur tetap kekeuh menggelar aksi demonstrasi.

Kengototan kaum buruh itu tidak lain disebabkan karena matinya kepastian kerja, kepastian pendapatan hingga Jaminan Sosial, akibat lahirnya Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja. Aturan yang diciptakan untuk membuka lapangan pekerjaan yang nyatanya malah menciptakan investasi yang menurunkan kesejahteraan.

Malaikat maut yang mencabut nyawa karena Pandemi, masih dimungkinkan bergantung pada imunitas dan imunisasi. Malaikat maut yang dimunculkan dari regulasi, sanggup menggilas dan menghancurkan semua pribadi, semua sendi kehidupan dan semua generasi tanpa berperi.

Pandemi hanya soal bertahan dari seleksi alam, sedangkan regulasi adalah mengenai keserakahan dan kesewenang-wenangan oleh mereka yang melebihi Tuhan.

Pada May Day tahun 2021 ini, kaum buruh di Jawa Timur mengadu ke wakil rakyat di DPRD Propinsi Jawa Timur, untuk memastikan hidup matinya nasib mereka dan generasi masa depan agar Omnibus Law Cipta Kerja dibatalkan.

Tak gentar terus berjuang melawan, Kordinator Wilayah Garda Metal Jawa Timur Suyatno, mengungkapkan curahan hati.

“Siapa bilang kita tidak takut mati? Tapi kita lebih takut kalau sekedar hidup namun tidak berarti. Lalu untuk apa Tuhan menciptakanmu?”, Tuturnya.

Baca :  Beredar Survei Indikator: Elektabilitas Radiapoh-Zonny 36,7 Persen, Mengungguli Kandidat Lain

Bagi buruh dan masyarakat, lebih baik mati berkalang tanah, daripada hidup di tanah yang terjajah, terjajah oleh kejinya regulasi dan jahatnya korporasi. (Alex)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *