Diduga PT KARYA USAHA MANDIRI Pengembang Perumahan di Plaosan Babat, Tipu Warga

LAMONGAN, Reportase inc – Ari Ika Lestari, warga Babat Lamongan, mungkin menjadi salah satu dari sekian banyak korban Pengembang nakal. Ayah tirinya yang bernama Afandi kepada wartawan mengukapkan, Rabu 13 /01/2021). Ya menjelaskan kronologi yang menimpa keluarganya pada bulan Maret tahun 2020 lalu.
Penuh harapan menempati rumah baru setelah menyerahkan uang puluhan juta Rupiah untuk DP satu unit rumah type 50 plus dengan Luas 108 M2 di Pondok Agung Permata Babat ( PAPB) pada PT karya Usaha Mandiri . Harga Rp 335 juta rupiah dengan angsuran perbulan Rp 3 juta Kreditur atas nama Ari Ika Lestari anak dari Nur Faizah ( Almarhumah) Suami Afandi, kini keluarga tenagah cemas “Ungkap Afandi “

Sebelumnya” Pihak pengembang ( developer)  waktu  didatangi di kantor Pemasaran desa Plaosan Babat Lamongan melakukan presentase dengan  pegawainya,  akhirnya Nur Faizah bersama Anaknya Ari Ika Lestari untuk membeli rumah tersebut dan bersedia membayar secara cahs (tunai)  Rp.50 juta sebagai DP (uang muka) awal. Namun karena  waktu  itu  uang untuk  DP belum  cukup   maka bayarlah ke pegembang Rp.39 juta dan diterima oleh Hj.  Ratnawati selaku komisaris diberi bukti pembayaran.

Pada tanggal 19 Maret 2020 dan sisanya Rp.11 juta akan dibayar menyusul.
Setelah itu, pihak atas nama Ratnawati selalu menghubungi terus menerus agar melunasi kekurangannya ,dan selang waktu kisaran 10 hari dari pembayaran pertama akhirnya kekurangan uang muka Rp 11 juta dilunasi oleh Nur Faizah bersama Afandi suaminya.
Semua transaksi pembayaran tersebut dilakukan di kantor pemasaran Perum PONDOK AGUNG PERMATA  Babat (PAPB )dan berkwitansi ” ujarnya “

Lebih lanjut setelah dirasa tidak ada kegiatan tindak lanjut pekerjaan rumah tersebut akhirnya saya bersama istri saya Nur Faizah menanyakan agar rumah segera dikerjakan.
Akhirnya pekerjaan  rumah  dimulai, namu dalam penentuan titik obyek Lokasi tidak sesuai dengan pembicaraan awal (soal tempat berpindah pindah) alasan itu milik orang lain “ungkap Afandi ”
Akhirnya dibangun, itupun dikerjakan kisaran bulan Juli-Agustus 2020.
Kemudian pekerjaan baru tahap pondasi dan pemasangan dinding batu bata baru kisaran 2 meteran dan pekerjaan belum di teruskan kembali , diwaktu itu isteri saya Nur Faizah diarahkan oleh pihak  An.  Ratnawati untuk melekukan kredit pada Bank BTPN di Gresik. Oleh Ratnawati Nur Faizah disuruh bilang ke BPTN pekerjaan bangunan sudah mencapai 60 persen tetapi istri saya keberatan karena bangunan tersebut belum mencapai 60 persen.
Pada saat itu dua kali dalam mengurus administrasi di Bank tersebut
termasuk kelengkapan administrasi menyerahkan foto copy KK dan KTP surat Nikah, bahkan surat Nikahnya sampai dihilangkan oleh bu Ratna, dan yang terakhir pengurusan di Bank BPTN Gresik karena hari jum’at oleh pihak Bank istri dan saya diperbolehkan pulang dan akan dihubungi kembali oleh pihak Bank. “Ukapnya”
Namun ditunggu tunggu tidak dihubungi sama sekali.
Setelah diketahui pekerjaan rumah tidak di lanjut.
Saat ditanya berkali kali Ratnawati selalu janji dan janji. “ujarnya”
Akhinya saya bersama keluarga sepakat untuk meminta uangnya di kembalikan saja.” Katanya”

Baca :  KPK ,TPPU MKP, Usut 4 Bidang Sawah Milik Mantan Bupati Mojokerto di Desa Terusan-Gedeg

Pada saat kami ke kantor Grya Permata Babat kantornya selalu tutup dan saat di hubungi lewat telp jarang diangkat , kalaupun diangkat selalu alasan rapat dan pergi tidak bisa ke Babat dan tidak bisa ketemu”Ujarnya”
Selalu dihubungi akhirnya sekali ketemu pada hari selasa dan saat itu bu Ratna bilang uang Rp 50 juta akan kasih tapi dipotong Rp.15 juta atau 30 persen dan yang Rp. 35 juta akan diangsur selama 6 bulan. Tapi Nur Faizah bersama keluarganya menolak , dan Ratnawati  merencanakan agenda pada hari kamis tapi saat ditunggu tunggu pada hari kamis Ratnawati kembali tidak menepati janjinya untuk datang “Ujarnya”

Karena kantor Grya Permata Babat selalu ditutup saat Bu Ratna dihubungi lewat telp jarang diangkat.
Inalilahi waina ilahiroji’un sampai keburu istri saya Nur Faizah meninggal dunia dan  kami sekeluarga merasa kehilangan dan ( sabtu 13 /12/2020 baru selesai 40 harinya istri saya meninggal)  “katanya”
Karena itulah kedua anaknya ibu Nur Faizah (Almarhuma)  Ari Ika Lestari a/n. Kreditur/ pembeli rumah dan anak kedua a/n. Gema Restu Winanda dan saya suami Nur Faizah melanjutkan untuk meminta uang tersebut dengan mengadukan persoalan ini ke sejumlah wartawan , dengan harapan uang sejumlah Rp 50 juta segera dikembalikan ke keluarga kami. Dan kami sekeluarga berharap uang Rp. 50 juta utuh gak boleh dipotong ataupun diangsur tanpa alasan apapun. “tandasnya ”
Karena pihak Pengembang Perum Pondok Agung Permata Babat (PAPB) adalah tidak tepat janji dan mengingkari janjinya.
Ditambahkan oleh tetangganya mas Widodo,ya membenarkan bahwa apa yang disampaikan oleh Afandi itu memang benar karena dalam perjalanan keluarga Nur Faizah dan Suaminya Afandi soal rencana mau beli rumah bercerita .ujar Widodo kepada wartawan Reportaseindonesia News. Karena saya tetangga dekat kami berharap uangnya mas Afandi dan keluarganya bisa kembali utuh “tandasnya ”
( Frans)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *