K.H. Abdurrosyid, Da’i Polda Jatim Nada Dan Dakwa Tutup Usia

 

LAMONGAN, Reportase inc –
Innalillahi wainna ilaihi rojiun,
Da’i polda Jawa timur, yang juga Ulama’ asal desa Dadapan, kecamatan Solokuro, kabupaten Lamongan Jawa timur K.H.Abdurrosyid (H.Darmasid) bin Suparman tutup usia, beliau wafat di usia 58 tahun, di salah satu Rumah sakit di Gresik,

Menurut fitriyah Anny anak almarhum,
“Aba sudah satu Minggu ini sakit, tak ajak berobat ke RS beliaunya selalu menolak,kemudian kemarin karena kondisinya sudah ngedrop akhirnya hari Senin sore saya bawa ke RS di Gresik, hari Selasa jam 9.00 pagi aba menghembuskan nafas terakhirnya”, tuturnya, saat ditemui awak media dikediamanya, (Selasa 24/11/2020).

Hal senada disampaikan oleh Gus Nafil, putra almarhum K.H.Abdurrosyid “Sebenarnya sudah lama sakitnya aba ini,setiap hari mengeluh perutnya sakit dan kalau bernafas itu tersengal waktu di RS, selasa pagi minta sholat dzuha dan baca sholawat nariyah, begitu selesai baca sholawat nariyah tiba-tiba sudah tidak ada, saya kaget kok sangat cepat sekali kepergian abah, atas nama keluarga apabila aba selama hidupnya ada kesalahan mohon dimaafkan, dan semoga beliau berakhir dalam keadaan Husnul khatimah, Amin”, Harap Gus Nafil putra dari Almarhum Kyai Rosyid tersebut.

Ribuan takziyah memadati rumah duka, lbegitu jenazah sudah selesai dimandikan dan dikafani oleh Pak Modin Kyai Said dilanjutkan dengan sholat mayit sebagai imamnya adalah K.H.Muntaha dan dilanjutkan tahlil dan do’a,

Hadir pula dalam acara prosesi penghormatan terakhir pemakaman tersebut diantaranya beliau K. Abdul Khohar pengasuh pesantren di daerah Siman jaya,
K. Mas’ud(Mbah Nang) pengasuh pondok pesantren Wali songo Sekaran,
Kyai. Puji Betiring Brondong dan para tokoh NU setempat dipimpin oleh K.H.Fatah Amin. Tak ketinggalan pula sesepuh dan ulama’ desa Dadapan K.H. Ahmad Mudzakir yang juga turut datang beserta santri-santrinya dari pondok pesantren Al-fatah Dadapan.

Baca :  DPD KNPI Gusit Bagikan Hanya 4 Macam Bahan Pokok Makanan Ke Beberapa Oknum Wartawan Gunungsitoli

Muballigh yang biasa berkeliling dari kampung ke kampung dengan membawa tema Nada dan Dakwa kini telah tiada,
Gajah mati meninggalkan gading,manusia mati meninggalkan jasa dan perjuangannya yang baik,

Kepergian muballigh yang biasa disebut Kyai raksasa itu kini telah tiada, bacaan Yasin, tahlil dan do’a
yang dipimpin oleh K. Kohar itu tak henti-hentinya dikirim untuk almarhum.

Kyai Rosyid sapaan sehari-harinya itu memang semasa hidupnya dihabiskan hanya untuk berjuang mensyiarkan agama Allah,
Semoga ilmu yang telah diberikan selama ini menjadi ilmu yang bermanfaat,

Selamat jalan wahai Kyaiku…
Perjuanganmu akan selalu dikenang masyarakat sepanjang masa,
Selamat beristirahat,
Semoga engkau bertemu dengan keluarga besarmu, guru-gurumu, kyaimu, para waliyullah dan Rosulullah Saw di surga nanti,
Amin.
(Kiki).

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *