Terpaksa, Warung Kopi Dibongkar Tanpa Ganti Rugi Di Desa Simorejo, Kepohbaru

 

Bojonegoro, Rin Com -Singgih(62) dan istrinya Suharnik (54) yang sejak Tahun 2002 hingga Juni 2020 membuka warung di tengah sawah, Tanah Ganjaran Perangkat Desa Eko(40) yang menjabat sebagai Kaur Pembangunan Desa Simorejo Kecamatan Kepohbaru, Kabupaten Bojonegoro. Dengan terpaksa Singgih membongkar warungnya pada Juli 2020, karena ada himbauan dari Pemerintah Desa setempat, himbauan itu melalui surat peringatan yang di buat oleh pihak Kecamatan Kepoh baru, lalu di tindak lanjuti oleh pihak Pemerintah Desa, yang intinya agar pemilik warung tersebut segera membongkar warungnya, jika tidak di indahkan maka akan di bongkar secara paksa oleh petugas.

Singgih dan istrinya menyampaikan keluhannya kepada wartawan media reportaseindonesianews. com, bahwa sudah sejak Dua kali pergantian Kepala Desa (Kades) yakni Kades Darno Satu Periode 8 Tahun, lalu di gantikan oleh Kades Prapto Dua Periode (12 Tahun), namun warungnya tidak ada masalah apapun terkait berdirinya di lokasi Tanah Bengkok Kaur Pembangunan (Eko). Tapi dengan di gantikan Kades yang baru dilantik dan baru menjabat kok sudah di gusur dari tempat dia menggantungkan nasibnya, terang Singgih dengan nada bersedih, padahal masih menurut Singgih dia selalu patuh dengan pembayaran uang sewa Tanah setiap Satu kali dalam Satu Tahun, dia membayar kepada pihak Desa sebesar Rp 200 ribu/Tahun, yang pembayarannya melalui Kasun Simorejo Sugeng Hariono, selain itu menurut Singgih pada saat Pilkades, pada saat Ganda Panjaitan vs Darno Singgih dan Keluarganya serta Saudaranya mendukung Kemenangan Ganda Panjaitan, namun inilah balasannya, “air susu di balas air Toba” tambah Singgih.

Lebih lanjut di katakan Singgih ada pedagang yang sama posisinya dengan dia yang bernama Sutris juga tergusur dari Tanah Kas Desa (TKD), akan tetapi Sutres diberi tempat pengganti, padahal Sutris pada saat pilkades tidak mendukungnya, lalu sebenarnya ada apa dengan dirinya, kata Singgih, selain itu Singgih juga mengatakan kepada Wartawan Media ini , pembongkaran warung miliknya di Desa Simorejo ini sangat berdampak buruk terhadap ekonomi rumah tangganya, dimana banyak sekali dia menanggung kerugian yang bisa di perkirakan mencapai Rp 15 juta, namun sama sekali tidak mendapat ganti kerugian, lalu dimana letak kebijaksanaan seorang Kepala Desa (Kades) terhadap dirinya, padahal dia kan masih warga Desa setempat yang semestinya mendapat perlindungan dari Kades.

Baca :  Tak Ada Lawan, Pasutri Kedungpengaron Maju Calon Kades

Di konfirmasi Kades Simorejo Ganda Panjaitan di Balai Desa pada Sabtu (8/7/2020) sekitar jam 15,,00 wib, Kades membenarkan adanya kejadian itu, namun Kades yang di wakili Suaminya itu mengatakan, “tidak kesemuanya keterangan Singgih itu benar, hanya sebagian yang benar, yang sebagian lagi salah”. Kades juga mengatakan “bahwa yang membuat surat perintah pembongkaran warung itu adalah pihak Kantor Kecamatan Kepohbaru sebanyak Dua kali, dengan alasan bahwa warung tersebut mengganggu keindahan kampung karena letaknya sangat mepet dengan Gapura pintu masuk kampung, namun karena tidak di indahkan oleh Singgih akhirnya ditindak lanjuti dengan susulan surat perintah Pembongkaran yang ke Tiga oleh pihak Desa Simorejo”. Selain itu Kades juga mengatakan bahwa: “tidak benar jika di katakan tidak di beri lahan pengganti untuk tempat berdirinya warung yang di bongkar, menurut Kades sudah di beri lahan kosong berukuran 4×9 M2 sebagai lahan pengganti tempat berdirinya warung yang di bongkar, namun demikian Singgih tidak mau menerima untuk menempatinya”. Kades menambahkan, bahwa: “tidak benar jika Singgih mengatakan sebagai pendukung Ganda Panjaitan pada saat pilkades.(Razali/Edgond)

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *